Rabu, 12 Desember 2012
Senin, 10 Desember 2012
Minggu, 02 Desember 2012
sejarah music SKA
sejarah musik SKA
Sejarah Musik SKA


Adalah Perang Dunia II yang mengubah segalanya. Kekuasaan Inggris terhadap negara-negara jajahannya runtuh sebelum masa PD II & terpecah belah pada saat pertengahan masa peperangan. Inggris memeberikan kemerdekaan kepada negara-negara jajahannya setelah mendapat tekanan dari pemerintahan kolonial. Pada tahun 1962 Jamaika membentuk pemerintahan sendiri meskipun masih tetap sebagai negara persemakmuran. Budaya Jamaika & musiknya mulai terefleksi dalam optimisme baru & aspirasi rakyat yang liberal.
Sejak tahun 40′an Jamaika telah mengadopsi & mengadaptasi berbagai bentuk musik dari Amerika. Pada saat PD II berakhir, begitu banyak band-band di Jamaika yang memainkan musik-musik dansa. Grup seperti Eric Dean Orchestra dengan trombonisnya Don Drummond & master gitarisnya Ernest Ranglin terpengaruh oleh musisi-musisi jazz Amerika seperti Count Bassie, Erskine Hawkins, Duke Ellington, Glenn Miller & Woody Herman. Ditahun 50′an ketenaran band-band jazz di Amerika digantikan oleh grup-grup yang kecil & cenderung lebih memainkan irama bop/rhythm & blues sound. Musisi Jamaika yang sering berkunjung ke Amerika terpengaruh & membawa pola permainan musik tersebut ke daerah asalnya. Band-band lokal di Jamaika seperti Count Smith The Blues Blaster, Sir Nick The Champ & Tom The Great Sebastian mulai memainkan gaya baru tersebut. Ditahun 1954, pertunjukan terbesar pertama kali diadakan di kota Kingston tepatnya di Ward Theatre. Band-band tradisional yang memainkan irama mento-folk-calypso ikut ambil bagian & sering sekali band-band tersebut mengisi acara di hotel-hotel yang ada di Jamaika & seputar pulau tersebut. Pada akhir tahun 50′an pengaruh-pengaruh jazz, R&B, & mento (sejenis musik calypso) melebur menjadi satu bentuk baru yang dinamakan ‘shuffled’. Irama shuffled memperoleh popularitas berkat kerja keras musisi-musisi seperti Neville Esson, Owen Grey, The Overtakers & The Matador Allstars. Banyak studio & perusahaan rekaman yang mengalami perkembangan & terus berusaha untuk mencari talenta-talenta baru. The Jamaican Broadcasting Corporation pun ikut membangkitkan semangat kepada musisi-musisi muda melalui siaran acara-acara di radio.
Dua orang yang amat berpengaruh dalam perkembangan musik di Jamaika pada tahun 50′an adalah Duke Reid & Clement Seymour Dodd. Bersama istrinya, Duke Reid memiliki toko ‘Treasure Island Liquor’ yang berlokasi di jalan Bond (Bond street). Soundsystem Reid dikenal dengan nama ‘The Trojan’, diambil dari tulisan yang tertera pada truknya. Truk yang biasa digunakan sebagai angkutan barang untuk tokonya. Dodd menamakan soundsystem miliknya ‘Sir Coxsone Downbeat’ yang diambil dari nama pemain kriket asal Yorkshire, Coxsone. Sepanjang akhir dekade, kedua orang tersebut memimpin persaingan dalam bisnis musik. Walaupun Coxsone lebih dekat dengan ‘Ghetto’(perkampungan yang didiami kaum atau kelompok tertentu) Adalah Reid yang dianugerahi sebagai ‘King of sound & blues’ di Success Club (acara penganugerahan) di tahun 1956, 1957, 1958.
Tahun 1962, saat di mana Jamaika sedang gandrung meniru musik-musik Amerika, Cecil Bustamente Campbell yang kemudian dikenal dengan nama ‘Prince Buster’, tahu bahwa sesuatu yang baru amat dibutuhkan pada saat itu. Ia memiliki seorang gitaris yang bernama Jah Jerry yang kemudian bereksperimen di musik dengan menitikberatkan ‘ketukan ‘afterbeat’ ketimbang ‘downbeat’. Hingga pada saat ini ketukan afterbeat menjadi esensi dari singkop (penukaran irama) khas Jamaika. Ska pun lahir. Soundsystem/studio rekaman pun mulai merekam hasi kerja mereka. Dengan tidak memberikan label pada vinyl (piringan hitam) dengan tujuan agar memperolehkeuntungan diantara para pesaingnya. Sehingga yang lain tidak dapat melihat apa yang dimainkan & ‘mencuri’ untuk sondsystem mereka sendiri.
Perang antar soundsystem pun memuncak hingga pada saat para donatur terancam oleh segerombol orang-orang yang menyebabkan permasalahan. Orang-orang ini dinamakan ‘Dance Hall Crashers’. Meskipun fasilitas Mono Recording yang masih primitif, adalah keteguhan hati dari antusiasnya akan musik ska yang memungkinkan untuk menjadi musik komersil dari Jamaika yang pertama kali. Dan kenyataannya ska dikenal sebagai musik dansa rakyat Jamaika.
Sepanjang tahun 60′an wilayah ghetto di Jamaika dipenuhi oleh pemuda-pemuda yang mencari pekerjaan. Pada waktu itu amat susah di dapat. Pada awalnya pemuda-pemuda ini tidak tertarik dengan optimisme musik ska. Pemuda-pemuda tersebut menciptakan identitas kelompok sebagai ‘Rude Boy’ (sebuah trend dikalangan pemuda yang pernah terjadi pada periode awal tahun 40′an) Menjadi ‘Rude’ artinya menjadi seseorang dimana masyarakat menganggapnya tidak berguna. Gaya dansa ska para Rude Boy memiliki ciri khas tersendiri, lebih pelan, dengan tingkah seakan-akan meninju seseorang. Rude Boy memiliki koneksitas dengan ‘Scofflaws’(orang-orang yang selalu menentang hukum) & dunia kriminal lainnya. Hal ini terefleksikan dalam lirik-lirik lagu ska. (catatan: gaya penampilan berpakaian Rude Boy yaitu dengan celana panjang yang mengatung hanya semata kaki). Musik ska sekali lagi mengalami perubahan untuk merefleksikan ‘Mood of the rude’ dengan menambahkan tensi pada permainan bass yang disesuaikan dengan gaya sebelumnya yaitu ‘free-walking bass style’.
Banyak yang berbondong-bondong mengadu nasib di kota Kingston untuk memperoleh ketenaran dalam industri musik yang kemudian beralih menjadi penjual ganja ketika gagal & modal makin menipis. Banyak pula yang berkecimpung dalam dunia kriminal (tergambar dalam film ‘The Harder They Come’ yang diperankan oleh Jimmy Cliff …film ini dipercaya mengisahkan tentang perjalanan hidup Jimmy Cliff)
Dua partai politik yang ada di Jamaika membentuk banser bersenjata. Opini publik pun mengarah pada penentangan terhadap kelompok Rude Boy & penggunaan senjata api. Peraturan pemilikan senjata api pun ditilik kembali setelah melalui periode dimana kepemilikan senjata diperbolehkan asal tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Siapa pun yang memiliki senjata api yang ilegal, diancam hukuman penjara seumur hidup
Artis & produser mendukung bahkan ‘memaafkan’ atas prilaku kelompok Rude Boy melalui musik ska. Dukungan untuk tidak menggunakan senjata api terefleksi dalam lagu-lagu seperti “Lawless street” dari kelompok Soul Brothers, “Gunmen coming to town” The Heptones. Duke Reid memproduseri salah satu grup ska The Rude Boy (shuffling down Bond street) C.S. Dodd pun ikut memproduseri grup muda yang memiliki visi musik mereka sebagai ‘rudies’ yaitu kelompok The Wailers ( Bob Marley, Peter Tosh, Bunny Wailer). Prince Buster menemukan seseorang yang memiliki mitos karakter sebagai Rude Boy yaitu Judge Dread. Lagu “007 Shanty Town” yang dinyanyikan oleh Desmond Dekker adalah sebuah karya cemerlang dalam mendokumentasikan perilaku Rude Boy kedalam sebuah lagu (berhasil memasuki urutan tangga lagu ke 14 di UK Charts)
Tema rude boy masih mendominasi sepanjang periode ska, dan popularitasnya memuncak sepanjang musim panas tahun 1964. Beat ska menjadi lebih lambat & Rocksteady pun lahir. Gelombang ska pertama berakhir pada tahun 1968 (Rocksteady adalah bagian cerita lain: Rocksteady kemudian melahirkan musik Reggae. Popularitas musik Reggae di Inggris di sebarkan oleh Skinhead; kelompok Rastafarian mengadopsi musik Reggae & lirik-lirik lagunya cenderung bertemakan ajaran Rastafari & pandangan Relijiusnya, Reggae pun berkembang menjadi ‘Dub’, ‘Dancehall’, & seterusnya …& seterusnya …).
Sabtu, 01 Desember 2012
Jumat, 16 November 2012
HOOLIGANS INGGRIS PALING BERBAHAYA
HOOLIGANS INGGRIS PALING BERBAHAYA
Kalau sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang
asal-usul dari Hooligan, dalam kesempatan kali ini saya ingin berbagi
informasi untuk menambah pengetahuan atau wawasan kita. Berikut ini
adalah beberapa Hooligans Inggris yang paling berbahaya :
BUSHWACKERS - MILLWALL FC
Mereka adalah supporter fanatik klub
sepakbola Millwall FC. Musuh utama mereka adalah Inter City Firm,
supporter fanatik klub West Ham United. Nama Bushwackers mereka ambil
dari pelesetan nama penyerbuan ketika perang saudara di Amerika.
Dan ngga' ada yang mau cari gara-gara dengan Hooligan yang satu ini.
Mereka bahkan memiliki senjata yang dirancang sendiri, khusus untuk
menyerang supporter lawan, mereka menyebutnya dengan "The Millwall
Brick." Puncak kegiatan mereka pada tahun 1980-an, Bushwackers kerap
membuat ulah serius selama pertandingan, dan bertanggung jawab atas
beberapa kerusuhan terburuk dalam sepakbola Inggris. Dan mereka bangga
dengan kelakuannya itu.
Walaupun setelah itu mereka tidak segarang sebelumnya,
namun 2 supporter Wolverhampton tewas dibuatnya, ditusuk oleh pisau
Stanley. Sementara di tahun 2002 lebih banyak lagi pertumpahan darah
ketika malam pertandingan play off versus Birmingham City. Polisi
menggambarkan kejadian malam itu sebagai kekerasan terburuk dan mejadi
reputasi Bushwackers yang tidak akan tertandingi.
INTER CITY FIRM - WEST HAM UNITED
Sekelompok Hooligan yang aktif dari tahun
1970 - 1990, mereka bernama Inter City Firm (ICF). Supporter fanatik
dari klub London, West Ham United. Dinamakan Inter City Firm sesuai
dengan nama kereta yang mereka pakai untuk menyaksikan pertandingan
away. Inter City Firm mempunyai kebiasaan unik dimana mereka
meninggalkan kartu di tubuh lawan yang mereka serang dengan tulisan yang
tertera : "Selamat, anda baru saja bertemu dengan ICF."
Meskipun sama-sama menyukai kekerasan, Cass
Pennant, seorang yang berpengaruh di ICF menyatakan bahwa ICF berbeda
dengan Hooligan lainnya yang umumnya mereka rasis dan berhaluan
neo-nazi. Namun tetap saja mereka bukanlah teman-teman yang baik. Banyak
contoh ekstrim perilaku kekerasan mereka telah didokumentasikan,
bentrokan sering terjadi dengan Hooligan saingannya, Bushwackers
Millwall.
ZULU WARRIORS - BIRMINGHAM CITY
Kembali ke tahun 70-an, teriakan "Zulu,
Zulu!!!" dijalanan Brimingham hanya memiliki arti; Ksatria Zulu,
Birmingham City yang terbaik dan provokasi untuk menantang bertempur.
Dikenal karena anggotanya yang berasal dari berbagai latar belakang
etnis, Hooligan yang satu ini adalah salah satu yang paling ditakuti di
era 80-an, dan mereka tetap penyebab utama kerusuhan. Bentrokan dan
kekerasan seringkali terjadi dengan pendukung rival klub Aston Villa
pada hari derby, dan Zulu yang dikenal keras mempertahankan wilayah
mereka dari serangan Hooligan lain.
Diantara sekian banyak insiden yang dipicu
oleh Ksatria Zulu ini adalah serangkaian kerusuhan di Cardiff pada tahun
2001 yang menyebabkan satu pub hancur, satu orang diserang dan sembilan
lagi dibawa ke rumah sakit. Kemudian pada tahun 2006, sekitar 200 fans
Birmingham City merobohkan pagar yang memisahkan mereka dari fans Stoke
City, setelah pertandingan piala FA, erang pun pecah dan polisi tidak
luput dari serangan Zulu. Seorang perwira senior kepolisian
menggambarkan kerusuhan ini sebagai "Kekerasan Ekstrim."
HARDCORE - ASTON VILLA
Hooligan terkenal lainnya yang berbasis di kota
Birmingham adalah Aston Villa Hardcore. Berafiliasi dengan klub Aston
Villa atau lebih dikenal sebagai The Villains. Dan reputasi mereka juga
tidak kalah sengitnya dibanding rival sekotanya Zulu Warriors,
Birmingham City. Pada "Pertempuran Rock Lane" tahun 2002, menyebabkan
beberapa gangguan serius di daerah Lane Rocky Aston sebelum pertandingan
antara Aston Villa versus Birmingham City yang menyebabkan penangkapan
15 orang Hooligan dan salah seorang anggota Hooligan, Steven Fowler,
dipenjarakan selama enam bulan.
Kemudian pada tahun 2005, lagi-lagi Steven Fowler
harus kembali mendekam di penjara untuk 12 bulan kemudian dan dilarang
menonton pertandingan secara langsung selama 10 tahun, karena ia
terlibat dalam serangan terorganisir antara Hardcore Villa dan
Headhunter Chelsea di King's London's Cross tahun 2004. Juga pada tahun
yang sama, beberapa Hooligan Villa terlibat dalam pertempuran dengan
Fans Queens Park Ranger diluar Villa Park (Stadion klub Aston Villa),
dimana seorang pramugara meninggal ketika menyeberang jalan.
6.57 CREW - PORTSMOUTH
Hooligan ini adalah supporter fanatik klub sepakbola Portsmouth FC. 6.57 Crew diambil
berdasarkan waktu kereta yang membawa mereka ke stasiun Waterloo London
pada hari Sabtu yaitu pukul 06:57. 6.57 Crew adalah salah satu kumpulan
Hooligan yang terbesar selama tahun 1980-an, dan telah menyebabkan
kekacauan di seluruh negeri. Pada tahun 2001, mereka bertempur dengan
fans Conventry City di kandang Coventry, menghancurkan kursi stadion dan
melemparkan Molotov ke lawan mereka.
Pada tahun 2004, 93 anggota mereka ditangkap
(termasuk anak 10 tahun yang menjadi Hooligan termuda dalam sejarah
Hooliganism Inggris) karena berulah dan memulai kerusuhan, sebelum dan
setelah pertandingan melawan rival klub mereka yakni Southampton, di
mana polisi diserang dan toko-toko dijarah. Lebih dari 100 Hooligan
Portsmouth dilarang bepergian ke piala dunia 2006 di Jerman karena
dinyatakan bersalah atas kejahatan yang berhubungan dengan sepakbola.
THE RED ARMY - MANCHESTER UNITED
Manchester United adalah salah satu klub
sepakbola terbesar dengan permainan yang indah, sehingga supporter
fanatik mereka, The Red Army, dapat dikatakan memilik jumlah terbesar
dengan tingkat Hooliganisme tinggi di Britania. Sementara nama The Red
Army juga digunakan untuk merujuk kepada fans Manchester United pada
umumnya, pada pertengahan tahun 70-an nama itu menjadi identik dengan
beberapa insiden menentukan dalam Hooliganisme Inggris.
Bentrokan massal terekam pada tahun 1985. Kala
itu The Red Army berseteru dengan Hooligan West Ham United, Inter City
Firm, disekitar kota Manchester. Pemimpin sekaligus legenda dari The Red
Army adalah Tony O'Neill yang selama 30 tahun menjadi fans sejati,
dimulai pada saat ia berumur 16 tahun, ikut bergabung dan bergerombol
untuk mendukung Setan Merah dimanapun mereka berlaga. Karena
kepribadiaanya yang kuat itulah, menjadikannya pemimpin sekaligus
leganda sejati The Red Army.
HEADHUNTERS - CHELSEA FC
Hooligans ini merupakan fans fanatik klub kota
London, Chelsea FC. Headhunters merupakan Hooligan rasis yang juga
kadang dikaitkan dengan Front Nasional dan Paramiliter Combat 18. Pada
tahun 1999, Headhunters telah disusupi oleh seorang reporter BBC yang
menyamar sebagai anggota tapi punya tattoo singa yang salah (fans berat
Chelsea pasti tahu logo singa Chelsea), kesalahan beresiko tersebut
membuat geram para Headhunters.
Mantan pemimpin Headhunters, Kevin Whitton,
dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 1985, setelah melakukan
serangan yang dianggap sebagai salah satu insiden Hooliganisme
sepakbola terburuk yang pernah ada di Inggris. Ketika itu Chelsea
mengalami kekalahan, Whitton dan lainnya masuk ke sebuah pub di Kings
Road dan berteriak, "Perang, perang, perang!!!". Beberapa menit kemudian
manager bar yang berasal dari Amerika, tersungkur sekarat dan seorang
Hooligan berteriak kepadanya, "Kalian orang Amerika datang ke sini dan
mengambil pekerjaan kami!!!." Seorang anggota gang menerima hukuman 10
tahun penjara di sidang yang sama dengan Kevin Whitton.
THE LEEDS UNITED SERVICE CREW - LEEDS UNITED
Dari namanya kita sudah bisa menembak kalau The
Leeds United Service Crew adalah supporter fanatik dari tim sepakbola
Liga Inggris, Leeds United. Service Crew terbentuk pada tahun 1974, dan
diberi nama setelah pelayanan kereta publik biasa yang membawa para
Hooligan pergi untuk melihat pertandingan.
Service Crew memiliki reputasi sebagai
salah satu Hooligan paling terkenal dalam sepakbola Inggris. Pada tahun
1985 ketika Hooliganisme sepakbola tersebar luas di Inggris, The BBC Six
O'Clock News memiliki laporan khusus, dimana mereka terdaftar dalam
Hooligan terburuk yang menciptakan kekacauan di seluruh Inggris dan
Leeds United tercatat dalam daftar lima klub terburuk di Liga Inggris.
LIVERPUDLIAN - LIVERPOOL FC
Liverpudlian adalah sebutan untuk supporter
fanatik klub sepakbola Liverpool FC. Hooligans ini merupakan rival dari
suporter fanatik klub Everton FC karena sebelumnya mereka pernah berbagi
stadion. Liverpudlian juga merupakan seteru dari The Red Army karena
perseteruan clasic antara klub Liverpool versus Manchester United.
Liverpool adalah salah satu klub tersukses yang dimiliki oleh Liga
Inggris. Namun prestasi yang di buat oleh
klub tercoreng oleh reputasi dari Liverpudlian yang sangat terkenal,
bahkan hingga diseluruh dunia, karena mereka menjadi kelompok yang
bertanggung jawab atas terjadinya insiden sebelum pertandingan final
Piala Champions antara Liverpool FC versus klub italia, Juventus.
Tragedi tersebut menewaskan 39 orang, yang
sebagian besar adalah pendukung Juventus. Insiden ini mengakibatkan
pelarangan bagi semua klub sepakbola Inggris untuk berkompetisi di Eropa
selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang mengikuti semua kompetisi
Eropa selam 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi 6 tahun. Selain
itu, 14 Liverpudlian didakwa bersalah atas peristiwa yang dikenal dengan
"Tragedi Heysel".
Kemudian pada 15 April 1989, lagi-lagi
Liverpudlian dan Liverpool FC harus mengalami insiden yang dikenal
dengan nama "Tragedi Hillsborough", pada pertandingan semi final Piala
FA melawan Nottingham Forrest. Ratusan penonton dari luar stadion
memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan 94 Liverpudlian
meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian
di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma
selama 4 tahun.
Itulah beberapa review atau info menarik
tentang Hooligans yang paling berbahaya di Inggris. Semoga informasi ini
bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan anda. Namun ingat
satu hal, segala tulisan dan cerita tentang kekerasan yang ada dalam
atikel tentang Hooligans ini, bukan untuk dicontoh, melainkan hanya
untuk menambah wawasan untuk kita lebih dewasa dalam sebuah fanatisme.
Sekian tulisan saya ini dan ingat satu hal...
Kamis, 01 November 2012
TRAGEDI HEYSEL
Tragedi Heysel terjadi pada tanggal 29 Mei 1985 di mana pada saat itu tengah terjadi pertandingan antara Liverpool dan Juventus di Piala Champions (saat ini Liga Champions). Peristiwa ini merupakan sejarah buram persepak bolaan Inggris
pada tahun itu, karena saat itu klub-klub Inggris sedang jaya-jayanya.
Karena peristiwa ini pula tim-tim dari Inggris dilarang bermain di
tingkat internasional selama 5 tahun lamanya. Peristiwa ini bermula dari
fans masing-masing klub yang saling mengejek dan melecehkan. Lalu
tiba-tiba sekitar satu jam sebelum kick off kelompok hooligan Liverpool
menerobos pembatas masuk ke wilayah tifosi Juventus. Tidak terjadi
perlawanan karena yang berada di bagian tersebut bukanlah kelompok
Ultras. Pendukung Juventus pun berusaha menjauh namun kemudian sebuah
tragedi terjadi. Dinding pembatas di sektor tersebut roboh karena tidak
kuasa menahan beban dari orang-orang yang terus beruhasa merangsek dan
melompati pagar. Ratusan orang tertimpa dinding yang berjatuhan. Akibat
peristiwa ini sebanyak 39 orang meninggal dunia dan 600 lebih lainnya
luka-luka.
Meskipun terjadi peristiwa yang mengenaskan dengan jumlah korban yang begitu besar, panitia memutuskan untuk terus melanjutkan pertandingan. Kick off dilakukan setelah kapten kedua kesebelasan meminta penonton untuk tenang. Alasan lain adalah untuk meredam atmosfer kerusuhan yang mulai menyebar. Tifosi Ultras Juventus di bagian lain stadion sempat akan melakukan pembalasan. Mereka mencoba untuk bergerak ke arah pendukung Liverpool namun berhasil dicegah satuan keamanan. Dengan dimulainya pertandingan maka suasana bisa mulai dikendalikan. Pertandingan itu sendiri dimenangi Juventus dengan hasil akhir 1 - 0. Michel Platini mencetak gol semata wayang Juventus dari titik penalti setelah Michael Platini dilanggar oleh pemain Liverpool.
Setelah penyelidikan lebih lanjut, pada tanggal 30 Mei 1985 UEFA melalui penyidik resminya, Gunter Schneider, menyatakan bahwa kesalahan sepenuhnya ada di pihak Liverpool. Bahkan kemudian, pada tanggal 31 Mei 1985, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher mendesak FA untuk melarang tim-tim Inggris untuk bermain di Eropa. Dua hari kemudian UEFA secara resmi memutuskan untuk melarang semua klub sepakbola Inggris untuk melakukan pertandingan di seluruh Eropa untuk "waktu yang belum ditentukan". Tanggal 6 Juni putusan itu berubah menjadi pelarangan bertanding di seluruh dunia, namun seminggu kemudian diputuskan bahwa pertandingan persahabatan diperbolehkan. Sanksi ini tidak berlaku untuk Timnas Inggris.
Putusan terakhir adalah pengucilan klub-klub Inggris dari peta persepakbolaan dunia selama lima tahun, dan tiga tahun tambahan khusus untuk Liverpool dan akhirnya mendapat keringanan dengan hanya satu tahun tambahan. Peristiwa Heysel telah merugikan klub-klub Inggris seperti Manchester United, Arsenal, Everton, Nottingham Forest, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan lain-lain yang pada rentang waktu tersebut sebenarnya berhak untuk ikut ambil bagian dalam kompetisi Eropa.
Hukuman yang begitu berat tersebut adalah sebagai peringatan bahwa kekerasan dalam sepakbola tidak boleh terjadi kembali. Suporter asal Inggris memang terkenal akan kebrutalannya. Makanya dari sanalah muncul istilah "hooliganisme". 10 tahun sebelum tragedi ini, di final European Cup 1975 fans Leeds United membuat kerusuhan dengan menyerang suporter Bayern Muenchen, berikut pemain dan offisial. Masyarakat sepakbola mengutuk tindakan itu namun UEFA masih memberi keringanan dengan hanya menghukum dengan larangan bertanding di kejuaraan Eropa untuk Leeds United selama 4 tahun. Setahun sebelum Final Piala Champions 1985, sebenarnya hooligan Liverpool juga sudah bentrok dengan tifosi AS Roma dalam ajang yang sama. Namun keributan itu tidak sampai mendapat begitu banyak perhatian.
Perdelapan final Liga Champions 2005 mempertemukan kedua tim. The Kop, di Liverpool mengkoordinasikan sebuah koreografi mosaik bertuliskan "Amicizia" ditujukan kepada para suporter Juventus yang memadati Anfield. Artinya persahabatan, sebuah permohonan maaf kepada tifosi Juventus. Sebagian tifosi menyambutnya, namun tidak sedikit pula yang menolaknya karena rentang waktu uluran persahabatan tersebut terlalu lama, 20 tahun sejak tragedi Heysel pecah.
Meskipun terjadi peristiwa yang mengenaskan dengan jumlah korban yang begitu besar, panitia memutuskan untuk terus melanjutkan pertandingan. Kick off dilakukan setelah kapten kedua kesebelasan meminta penonton untuk tenang. Alasan lain adalah untuk meredam atmosfer kerusuhan yang mulai menyebar. Tifosi Ultras Juventus di bagian lain stadion sempat akan melakukan pembalasan. Mereka mencoba untuk bergerak ke arah pendukung Liverpool namun berhasil dicegah satuan keamanan. Dengan dimulainya pertandingan maka suasana bisa mulai dikendalikan. Pertandingan itu sendiri dimenangi Juventus dengan hasil akhir 1 - 0. Michel Platini mencetak gol semata wayang Juventus dari titik penalti setelah Michael Platini dilanggar oleh pemain Liverpool.
Korban
39 suporter sepak bola meninggal dalam peristiwa ini, 32 suporter Juventus, 4 orang warga negara Belgia, 2 orang Perancis serta seorang Irlandia.
|
|
Konsekuensi
Kepolisian Inggris menyelidiki lebih lanjut dari berbagai sumber. Film sepanjang 17 menit dan berbagai hasil jepretan kamera menjadi alat untuk mengungkap kejadian tersebut. TV Eye menayangkan satu jam penuh perihal Tragedi Heysel, dan foto-foto pun dipublikasikan melalui media massa. Hanya 27 orang akhirnya ditahan dengan kasus penganiayaan dan pembunuhan, sebagian besar mereka berasal dari Merseyside dan memang telah beberapa kali berurusan dengan hukum karena kerusuhan sepakbola. 14 orang pendukung Liverpool itu akhirnya dipidana atas dakwaan tersebut.Setelah penyelidikan lebih lanjut, pada tanggal 30 Mei 1985 UEFA melalui penyidik resminya, Gunter Schneider, menyatakan bahwa kesalahan sepenuhnya ada di pihak Liverpool. Bahkan kemudian, pada tanggal 31 Mei 1985, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher mendesak FA untuk melarang tim-tim Inggris untuk bermain di Eropa. Dua hari kemudian UEFA secara resmi memutuskan untuk melarang semua klub sepakbola Inggris untuk melakukan pertandingan di seluruh Eropa untuk "waktu yang belum ditentukan". Tanggal 6 Juni putusan itu berubah menjadi pelarangan bertanding di seluruh dunia, namun seminggu kemudian diputuskan bahwa pertandingan persahabatan diperbolehkan. Sanksi ini tidak berlaku untuk Timnas Inggris.
Putusan terakhir adalah pengucilan klub-klub Inggris dari peta persepakbolaan dunia selama lima tahun, dan tiga tahun tambahan khusus untuk Liverpool dan akhirnya mendapat keringanan dengan hanya satu tahun tambahan. Peristiwa Heysel telah merugikan klub-klub Inggris seperti Manchester United, Arsenal, Everton, Nottingham Forest, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan lain-lain yang pada rentang waktu tersebut sebenarnya berhak untuk ikut ambil bagian dalam kompetisi Eropa.
Hukuman yang begitu berat tersebut adalah sebagai peringatan bahwa kekerasan dalam sepakbola tidak boleh terjadi kembali. Suporter asal Inggris memang terkenal akan kebrutalannya. Makanya dari sanalah muncul istilah "hooliganisme". 10 tahun sebelum tragedi ini, di final European Cup 1975 fans Leeds United membuat kerusuhan dengan menyerang suporter Bayern Muenchen, berikut pemain dan offisial. Masyarakat sepakbola mengutuk tindakan itu namun UEFA masih memberi keringanan dengan hanya menghukum dengan larangan bertanding di kejuaraan Eropa untuk Leeds United selama 4 tahun. Setahun sebelum Final Piala Champions 1985, sebenarnya hooligan Liverpool juga sudah bentrok dengan tifosi AS Roma dalam ajang yang sama. Namun keributan itu tidak sampai mendapat begitu banyak perhatian.
Peringatan
Sebuah tugu peringatan Tragedi Heysel didirikan dengan biaya £140,000. Diresmikan tepat 20 tahun setelah kejadian tersebut, 29 Mei 2005. Berbentuk jam matahari, tugu tersebut dihiasi dengan batu-batuan yang berasal dari Italia dan Belgia. Sebuah puisi "Funeral Blues" oleh penyair Inggris W. H. Auden melengkapi simbolisasi kesedihan tiga negara. 39 lampu bersinar untuk setiap korban Heysel. Tugu peringatan ini didesain oleh seniman Perancis Patrick Remoux.Perdelapan final Liga Champions 2005 mempertemukan kedua tim. The Kop, di Liverpool mengkoordinasikan sebuah koreografi mosaik bertuliskan "Amicizia" ditujukan kepada para suporter Juventus yang memadati Anfield. Artinya persahabatan, sebuah permohonan maaf kepada tifosi Juventus. Sebagian tifosi menyambutnya, namun tidak sedikit pula yang menolaknya karena rentang waktu uluran persahabatan tersebut terlalu lama, 20 tahun sejak tragedi Heysel pecah.
Kamis, 25 Oktober 2012
Liverpool FC
Liverpool F.C.
Liverpool Football Club (dikenal pula sebagai Liverpool atau The Reds) adalah sebuah klub sepak bola peserta Liga Utama Inggris. Liverpool adalah klub tersukses dalam sejarah persepakbolaan Inggris yang bermarkas di kota Liverpool. Liverpool telah memenangkan 5 tropi Liga Champions (dulu Piala Champions), yang merupakan rekor Inggris.18 gelar Liga Inggris, 7 Piala FA, serta, 7 kali juara Piala Liga. Stadion mereka berada di Anfield, yang terletak sekitar 4,8 km dari pusat kota Liverpool.Sejarah
Salah satu klub tersukses di Inggris Raya. Didirikan pada 1892 akibat perseteruan John Holding dengan Everton FC, Liverpool menjelma kekuatan serius di kompetisi sepakbola Inggris. Klub sempat diberi nama Everton FC and Athletic Grounds, Ltd., atau diringkas Everton Athletic, namun FA menolak mengakui dua tim bernama Everton. Houlding pun akhirnya memilih nama Liverpool FC.Tak butuh lama bagi Liverpool untuk mencicipi gelar di liga. Pada 1900/01, Liverpool sukses menjuarai Divisi Satu dan mengulanginya lagi lima tahun kemudian. Final Piala FA pertama dilakukan pada 1914, meski mereka dikalahkan Burnley 1-0. Liverpool sempat terseok-seok sebelum Bill Shankly datang sebagai manajer pada 1959. Shankly membenahi tim secara besar-besaran dan menggunakan sebuah ruangan bernama The Boot Room untuk menggelar rapat pelatih.
Kejayaan Liverpool bersama Shankly dilanjutkan Bob Paisley, yang antara lain sukses membawa Reds merengkuh trofi Eropa pertama. Pada 1972/73, Liverpool menyabet Piala UEFA dan menyusul Piala Champions empat tahun berikutnya. Periode keemasan Liverpool pun dimulai. Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden Heysel dan Hillsborough pada 1980-an. Kedua insiden mengerikan tersebut memakan korban nyawa penonton sepakbola dan masih terus dikenang hingga saat ini. Kali terakhir Liverpool menjuarai liga adalah musim 1989/90 dan sudah terlalu lama mereka menunggu untuk mencicipi sukses pertama di era Liga Primer.
Lambang
Dalam tradisinya, merah dan putih adalah warna klub. Namun dalam berkembangannya berubah menjadi merah pada era 1960an. Seperti lambang klub yang terus berkembang mengikuti perkembangan sejarah Liverpool, dengan dua nyala api yang dimasukkan ke dalam lambang klub setelah Tragedi Hillsborough untuk menghormati 96 suporter Liverpool yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Liverpool telah bermain di Anfield sejak didirikan, dan direncanakan untuk pindah ke stadiun yang baru di Stanley Park. Diperkirakan stadiun baru akan selesai pada 2011.Era keemasan
Liverpool sangat dominan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Pemain-pemain yang terkenal pada masa ini termasuk Ray Clemence, Mark Lawrenson, Graeme Souness, Ian Callaghan,Phil Neal, Kevin Keegan, Alan Hansen, Kenny Dalglish (102 cap), dan Ian Rush (346 gol)Liverpool meraih era terbaiknya saat masih dikepalai oleh Bill Shankly. Pelatih ini kemudian menjadi legenda Liverpool. Ia sangat dihormati karena berhasil membawa Liverpool kembali ke divisi satu setelah sebelumnya mendekap di divisi dua selama 8 musim. Untuk menghormati jasanya, dibuatlah patung Bill Shankly di pintu masuk Anfield.
Tragedi
Klub ini juga terlibat dalam dua tragedi besar dalam sepak bola Eropa, yaitu dalam Tragedi Heysel pada 1985 dan Tragedi Hillsborough pada 1989. Tragedi Heysel mengakibatkan klub-klub dari Inggris dilarang tampil di ajang kejuaraan Eropa selama 5 tahun.
Langganan:
Komentar (Atom)









